Benarkah Pemerintahan SBY sebersih yang kita pikirkan?
SBY muncul laksana satria piningit, simbol kepahlawanan menurut cerita jawa. Satria yang dimata rakyat menjadi tumpuan harapan atas berbagai keluh kesah yang terjadi. Bahkan tak jarang rakyat yang terlalu mengidolakannya rela melakukan apa saja demi pahlawannya itu. Beberapa kali hasil diskusiku dengan berbagai macam kalangan masyarakat membuktikan bahwa masyarakat sangat terpukau dengan sang fenomenal itu. Alam pemikiranku berani menyimpulan bahwa ini adalah bukti bahwa rakyat Indonesia memang masih belum jernih berpikir.
Begitu pun dengan diskusi di milis-milis, aku melihat bagaimana pendukung SBY dengan sekuat tenaga melakukan pembelaan terhadap berbagai isu negatif yang ditujukan padanya, bahkan di beberapa forum malah pendukung SBY membela mati-matian bahkan dengan kata-kata yang menurut saya kurang sopan sekalipun. Fenomena ini semakin membuatku berpikir untuk tidak respek terhadap presiden terpilih itu.
Ku akui memang bahwa SBY adalah orang yang berkarisma, SBY adalah orang yang cerdas, SBY adalah ahli strategi yang tangguh. Dibanding dua calon presiden lainnya memang SBY memiliki keunggulan lebih. Kemenangannya merebut hati lebih dari setengah suara rakyat Indonesia cukup menjadi bukti. Dengan kecerdasannya dia mampu mempengaruhi rakyat melalui strategi media yang ia jalankan, dengan tim kampanye yang tangguh dia mampu menyetir suara rakyat melalui janji-janji manis dan kampanye “kesuksesan semu” kepemimpinannya selama ini. Dan alhasil, tak dipungkiri bahwa beragam macam kepentingan juga menguntit di belakangnya.
Dari awal aku sudah menduga bahwa popularitas SBY yang berlebihan itu suatu saat akan menjadi bumerang baginya. Politik adalah suatu tempat dimana berjuta-juta kepentingan beradu, meski mungkin saja SBY adalah orang yang bersih, namun siapa yang memberi jaminan bahwa penguntit-penguntitnya juga adalah orang bersih. Kepentingan yang sangat besar itulah yang menjadi tujuan utama para pengikut SBY berlindung dibalik kesuksesan SBY. Dan karena tuntutan politik balas budi SBY akhirnya sekuat tenaga membela kepentingan para suksesornya itu.
Contoh sederhana sudah menyeruak ke permukaan, betapa ku terkejut ketika beberapa waktu lalu mengetahui besarnya dana kampanye yang berhasil dikumpulkan oleh team kampanye SBY. Sebisa mungkin aku tidak ingin berpikir negatif, namun kepalaku ingin terus mengatakan bahwa “pasti ada sesuatu disana”. Bagaimana mungkin bisa terkumpul uang sebanyak itu, kalaupun terkumpul pasti belum tentu uang bersih, bagaimana dengan penyumbang asing dan hasil money loundring, dll. Dugaan-dugaan itu memang hanya sekedar berada di alam pemikiranku, tapi bisa saja benar.
Satu demi satu pembuktian atas dugaanku itu mulai bermunculan, mulai dari kasus anta boga, mega skandal bank century, kasus KPK, dll. Sebagai kaum awam aku sudah bisa menduga kalau ini adalah setali tiga uang, memiliki kaitan dengan semua kesuksesan SBY itu. Apakah ini alasan mengapa SBY mencoba sekuat tenaga mendekati oposisi PDIP dan Partai Golkar, untuk membalut borok-boroknya sebelum semuanya bocor ke Publik. Persisnya aku juga belum bisa menyimpulkan. Kita lihat saja akhir dari cerita ini nanti.
Pengkerdilan KPK
Kasus yang paling mengelitik hatiku adalah kasus pengkerdilan KPK akhir-akhir ini. Mengapa aku katakan menggelitik, karena memang sangat gampang ditebak, seperti sinetron saja, ceritanya sudah kebaca. Lihat betapa sesama penegak hukum berebut wewenang, dan mempertahankan nama besar lembaga, lihat bagaimana “perang kecil” itu dibiarkan lepas menjadi konsumsi masyarakat, meresahkan semua kalangan, sementara satrio piningit yang diagung-agungkan itu diam saja, atau mungkin dia sedang tertawa terbahak bahak mendengarkan kasus ini dari para pembisiknya.
Hal yang paling menggelitik bagiku adalah mengapa kok sangkaannya adalah penyalah gunaan wewenang, sementara sasarannya adalah korupsi, kenapa bukan di praperadilan kan saja. Apakah polisi punya hak memangkas atau mengawasi wewenang lembaga lain. Bukankah itu sudah jelas wewenangnya KPK berdasarkan undang-undang. Kalau begitu betapa saktinya posisi polisi. Terkesan Polisi mencari-cari alasan “menembak” KPK. Dan yang lucunya lagi bila nanti Polisi tidak memiliki cukup bukti atas tindakannya itu, apalagi kalau di tengah jalan keluar SP3. Wah, kalau itu terjadi, sungguh memalukan sekali. Saya jadi teringat kasus LC fiktif BNI beberapa waktu lalu. Dengan lantangnya polisi mencoba membuka kasus ini, eh, di tengah jalan terbongkar bahwa ternyata Polisi ikut bermain disitu, bahkan kabareskrim dan beberapa pejabat polri lainnya ikut terjerat.
SBY yang sudah terlanjur dicap bersih oleh setengah rakyat Indonesia ini ternyata penuh dengan lumpur kotor. Mungkin saja usaha pengkerdilan KPK ini sudah mendapatkan restu darinya untuk melancarkan pemerintahannya lima tahun ke depan. Usaha ini nampaknya bakal menjadi kenyataan setelah satu pimpinannya resmi menjadi terdakwa, sementara dua lagi baru ditetapkan menjadi tersangka. Hati nuraniku tanpa terasa meneteskan air mata melihat hal ini. Begitu juga mungkin berjuta-juta rakyat Indonesia yang menjadi korban adu kepentingan para elit negeri ini.
Mengapa para penegak hukum justru sibuk mengurusin penyalahgunaan wewenang KPK, sementara sang koruptor Joko Chandra dan Anggoro Widjaja saja tidak tahu rimbanya dimana. Mengapa Polisi cemburu dengan KPK, sementara masih banyak tugas-tugas polri yang masih menjadi PR yang dinanti-nanti masyarakat. Mengapa kejaksanaan ikut-ikutan melucuti KPK, sementara lembaga kejaksaaan saja belum bisa memebenahi dirinya. Dan mengapa semua pertikaian ini dibiarkan terjadi begitu saja, sementara para koruptor malah tertawa terbahak-bahak menonton dari belakang.
oleh:simbolon..
Begitu pun dengan diskusi di milis-milis, aku melihat bagaimana pendukung SBY dengan sekuat tenaga melakukan pembelaan terhadap berbagai isu negatif yang ditujukan padanya, bahkan di beberapa forum malah pendukung SBY membela mati-matian bahkan dengan kata-kata yang menurut saya kurang sopan sekalipun. Fenomena ini semakin membuatku berpikir untuk tidak respek terhadap presiden terpilih itu.
Ku akui memang bahwa SBY adalah orang yang berkarisma, SBY adalah orang yang cerdas, SBY adalah ahli strategi yang tangguh. Dibanding dua calon presiden lainnya memang SBY memiliki keunggulan lebih. Kemenangannya merebut hati lebih dari setengah suara rakyat Indonesia cukup menjadi bukti. Dengan kecerdasannya dia mampu mempengaruhi rakyat melalui strategi media yang ia jalankan, dengan tim kampanye yang tangguh dia mampu menyetir suara rakyat melalui janji-janji manis dan kampanye “kesuksesan semu” kepemimpinannya selama ini. Dan alhasil, tak dipungkiri bahwa beragam macam kepentingan juga menguntit di belakangnya.
Dari awal aku sudah menduga bahwa popularitas SBY yang berlebihan itu suatu saat akan menjadi bumerang baginya. Politik adalah suatu tempat dimana berjuta-juta kepentingan beradu, meski mungkin saja SBY adalah orang yang bersih, namun siapa yang memberi jaminan bahwa penguntit-penguntitnya juga adalah orang bersih. Kepentingan yang sangat besar itulah yang menjadi tujuan utama para pengikut SBY berlindung dibalik kesuksesan SBY. Dan karena tuntutan politik balas budi SBY akhirnya sekuat tenaga membela kepentingan para suksesornya itu.
Contoh sederhana sudah menyeruak ke permukaan, betapa ku terkejut ketika beberapa waktu lalu mengetahui besarnya dana kampanye yang berhasil dikumpulkan oleh team kampanye SBY. Sebisa mungkin aku tidak ingin berpikir negatif, namun kepalaku ingin terus mengatakan bahwa “pasti ada sesuatu disana”. Bagaimana mungkin bisa terkumpul uang sebanyak itu, kalaupun terkumpul pasti belum tentu uang bersih, bagaimana dengan penyumbang asing dan hasil money loundring, dll. Dugaan-dugaan itu memang hanya sekedar berada di alam pemikiranku, tapi bisa saja benar.
Satu demi satu pembuktian atas dugaanku itu mulai bermunculan, mulai dari kasus anta boga, mega skandal bank century, kasus KPK, dll. Sebagai kaum awam aku sudah bisa menduga kalau ini adalah setali tiga uang, memiliki kaitan dengan semua kesuksesan SBY itu. Apakah ini alasan mengapa SBY mencoba sekuat tenaga mendekati oposisi PDIP dan Partai Golkar, untuk membalut borok-boroknya sebelum semuanya bocor ke Publik. Persisnya aku juga belum bisa menyimpulkan. Kita lihat saja akhir dari cerita ini nanti.
Pengkerdilan KPK
Kasus yang paling mengelitik hatiku adalah kasus pengkerdilan KPK akhir-akhir ini. Mengapa aku katakan menggelitik, karena memang sangat gampang ditebak, seperti sinetron saja, ceritanya sudah kebaca. Lihat betapa sesama penegak hukum berebut wewenang, dan mempertahankan nama besar lembaga, lihat bagaimana “perang kecil” itu dibiarkan lepas menjadi konsumsi masyarakat, meresahkan semua kalangan, sementara satrio piningit yang diagung-agungkan itu diam saja, atau mungkin dia sedang tertawa terbahak bahak mendengarkan kasus ini dari para pembisiknya.
Hal yang paling menggelitik bagiku adalah mengapa kok sangkaannya adalah penyalah gunaan wewenang, sementara sasarannya adalah korupsi, kenapa bukan di praperadilan kan saja. Apakah polisi punya hak memangkas atau mengawasi wewenang lembaga lain. Bukankah itu sudah jelas wewenangnya KPK berdasarkan undang-undang. Kalau begitu betapa saktinya posisi polisi. Terkesan Polisi mencari-cari alasan “menembak” KPK. Dan yang lucunya lagi bila nanti Polisi tidak memiliki cukup bukti atas tindakannya itu, apalagi kalau di tengah jalan keluar SP3. Wah, kalau itu terjadi, sungguh memalukan sekali. Saya jadi teringat kasus LC fiktif BNI beberapa waktu lalu. Dengan lantangnya polisi mencoba membuka kasus ini, eh, di tengah jalan terbongkar bahwa ternyata Polisi ikut bermain disitu, bahkan kabareskrim dan beberapa pejabat polri lainnya ikut terjerat.
SBY yang sudah terlanjur dicap bersih oleh setengah rakyat Indonesia ini ternyata penuh dengan lumpur kotor. Mungkin saja usaha pengkerdilan KPK ini sudah mendapatkan restu darinya untuk melancarkan pemerintahannya lima tahun ke depan. Usaha ini nampaknya bakal menjadi kenyataan setelah satu pimpinannya resmi menjadi terdakwa, sementara dua lagi baru ditetapkan menjadi tersangka. Hati nuraniku tanpa terasa meneteskan air mata melihat hal ini. Begitu juga mungkin berjuta-juta rakyat Indonesia yang menjadi korban adu kepentingan para elit negeri ini.
Mengapa para penegak hukum justru sibuk mengurusin penyalahgunaan wewenang KPK, sementara sang koruptor Joko Chandra dan Anggoro Widjaja saja tidak tahu rimbanya dimana. Mengapa Polisi cemburu dengan KPK, sementara masih banyak tugas-tugas polri yang masih menjadi PR yang dinanti-nanti masyarakat. Mengapa kejaksanaan ikut-ikutan melucuti KPK, sementara lembaga kejaksaaan saja belum bisa memebenahi dirinya. Dan mengapa semua pertikaian ini dibiarkan terjadi begitu saja, sementara para koruptor malah tertawa terbahak-bahak menonton dari belakang.
oleh:simbolon..
Read Users' Comments (0)






